BUKU I DAN II
Buku Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (buku I) dan Serat Pocapan Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (buku II) harus dipergunakan bersama dan terpadu, seperti halnya yang dilakukan pada pertunjukan wayang wong gaya Yogyakarta di istana Yogyakarta pada masa lampau. Transliterasi dari naskah beraksara Jawa dan berbahasa Jawa pedalangan ke aksara Latin sudah barang tentu berpedoman pada ejaan yang disempurnakan (1977). Namun demikian ejaan ini masih memerlukan beberapa tanda baca tambahan, khususnya untuk huruf e. Bila dalam buku penulis yang berjudul Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta (1984) dipergunakan tanda baca tambahan ě untuk pepet pada aksara Jawa, hal itu dilakukan agar ada konsistensi dengan penggunaan ě (baca: ǝ) pada bahasa Jawa Kuna. Pada Serat Kandha dan Serat Pocapan ini dipergunakan tanda lain pula untuk e. E pepet (baca: ǝ) tidak digunakan tanda tambahan seperti pada kata-kata pantes, banget, Permadi, dan sebagainya. Sedangkan e taling, perlu ada pembedaan antara e taling pada kata déwa (baca: dewa),dan pada kata dèwi (baca: dewi).
Pada naskah Kagungan-Dalem Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (1937) dan Kagungan-Dalem Serat Pocapan Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (1937) terdapat angka halaman. Pada transliterasi ini angka halaman naskah asli dituliskan di pinggir kiri. Sedangkan naskah Kagungan-Dalem Serat Kandha Ringgit Tiyang Sambetipun Lampahan Bomatara (1926) dan Kagungan-Dalem Serat Pocapan Ringgit Tiyang Sambetipun Lampahan Bomatara (1926) tidak terdapat angka halaman. Pada stansliterasinya juga tidak diberi angka halaman.
Untuk mempermudah pembacaan terpadu buku I dan buku II, penulis memberikan angka di dalam kurung untuk urutan dialog (pocapan). Bila pada Serat Kandha (buku I) sesudah kata pocapan terdapat misalnya angka (25), dialognya tercantum pada Serat Pocapan (buku II) dengan angka (25) pula. Selain itu, agar bagian teks yang dibaca oleh
vii