Menyang kontèn

Kaca:Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (Buku I).pdf/24

Saka Wikisumber
Kaca iki wis divalidasi

12

Tanda-tanda verbal untuk gendhing-gendhing lain yang tidak berbentuk wangsalan juga cukup jelas. Tanda verbal (sasmita) untuk gendhing Plajaran yang mengiringi adegan berjalan cepat, lari, terbang, datang mendadak, gaduh, hujan lebat, perang, dan pembunuhan, antara lain berupa kata-kata seperti: pyak, pyak, pyak; énggal-énggalan; sekala anulya sirna; anulya majeng; dumrojog tanpa larapan; siyut-siyut; atho-atho; temah ajur kaparah dadya sawalang-walang; nulya dèn-bithi sirahira sigar; dan sebagainya. Sedangkan tanda-tanda verbal untuk gendhing Ayak-ayakan yang mengiringi adegan yang mengharukan, bergerak santai, berjalan pelan-pelan dan sebagainya antara lain: sarwi nenggak waspa; tindakira akapang-kapang; anulya tindak; dan sebagainya.

Adegan-adegan yang gawat, resmi, selalu diiringi oleh ungkapan verbal yang diekspresikan oleh pesindhèn kakung (penyanyi koor pria) berbentuk kawin, ada-ada, dan lagon. Meskipun tidak ada sasmita, tetapi kawin, ada-ada, dan lagon disebutkan secara jelas (tertulis) dalam Serat Kandha dan Serat Pocapan.

Dengan demikian Serat Kandha dan Serat Pocapan bukan sekedar teks drama menurut pengertian Barat, tetapi lebih dari itu, karena Serat Kandha betul-betul dibaca secara ekspresif oleh pemaos kandha (pembaca teks ceritera); sedangkan Serat Pocapan yang diletakkan di samping Serat Kandha hanya disimak oleh pemaos pocapan untuk mengontrol jalannya ceritera.

Karena penggunaan yang praktis ini Pigeaud menyamakan Serat Kandha dan Serat Pocapan dengan libretto dalam opera Barat.[1]

Pada penerbitan ini buku I Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga penulis lengkapi dengan notasi gendhing-gendhing yang mengiringi pergelaran agar bisa dipergunakan secara praktis. Notasi ini penulis dapatkan dari RL. Pustakamardawa, seorang pustakawan dari Kridha Mardawa keraton Yogyakarta, yang juga ahli karawitan Jawa gaya Yogyakarta. RL. Pustakamardawa dalam salah satu pergelaran wayang wong di istana Yogyakarta dengan lakon Mintaraga juga menari sebagai salah seorang bidadari penggoda Mintaraga (Arjuna).

Soedarsono


  1. Pigeaud, Literature of Java Vol. I.