Menyang kontèn

Kaca:Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (Buku I).pdf/21

Saka Wikisumber
Kaca iki wis divalidasi

9

Arjuna. Bagian pertama dari lakon Mintaraga dimulai dengan pathet nem yang terdiri dari jejer sepisan kerajaan Dwarawati, berakhir dengan jejer sabrangan dari kerajaan Ngimataka. Pathet sanga dibuka dengan gara-gara, kemudian jejer pandhita, perang kembang antara Angkawijaya melawan raksasa penjaga perbatasan (Cakil dkk), diakhiri dengan jejer kerajaan Ngamarta. Pathet manyura penuh dengan perang antara para dewa dengan raja-raja sekutu Niwatakawaca, berakhir dengan jejer tancep kayon di Ngéndrabuwana. Bagian kedua dari lakon Mintaraga dimulai pula dengan pathet nem yang dibuka dengan jejer sepisan di Kayangan Ngéndrabuwana, berakhir dengan jejer sabrangan kerajaan Ngimataka serta perang antara para dewa dengan tentera Niwatakawaca. Pathet sanga dibuka oleh gara-gara, kemudian disusul dengan jejer pandhita, perang kembang antara Mintaraga (Arjuna) melawan tentera raksasa, dan berakhir dengan jejer di Ngéndrasonya tempat Kresna bertemu dengan seluruh keluarga Pandawa, kecuali Mintaraga. Pathet manyura dimulai dengan persiapan perang besar antara Mintaraga melawan Niwatakawaca, dan ditutup dengan jejer tancep kayon; Bathara Nurada memerintahkan para dewa untuk menyiapkan perkawinan antara Mintaraga dengan Dèwi Supraba.

Ceritera-ceritera yang dipentaskan pada pergelaran wayang wong di istana Yogyakarta dahulu selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di istana, yang temanya selalu berkisar pada konflik antara dua bersaudara, kesuburan (perkawinan), dan keadilan. Konflik yang diceritakan dalam lakon Gondawardaya yang dipentaskan pertama oleh Sultan Hamengkubuwana I melambangkan konflik antara Sultan Hamengkubuwana I (Pangéran Mangkubumi) dengan Sunan Pakubuwana II dan III, yang baru selesai dengan ikut campurnya Belanda, yang dalam lakon ini dilambangkan dengan bentuk Semar, sang panakawan. Lakon-lakon lain yang pada umumnya dipentaskan untuk upacara perkawinan berbentuk sayembara untuk mendapatkan isteri. Lakon-lakon jenis ini antara lain: Jayasemadi, Pragolamurti (Bragolamurti), Pregiwa-pregiwati, Sri Suwéla, Parta Krama, Srikandhi Meguru Manah, Sumbadra Larung/Pralaya, dan Mintaraga. Tentang keadilan tertuang dalam lakon Samba Sebit atau Bomatara, yang dalam lakon ini Kresna sebagai penjelmaan Wisnu tak segan-segan membunuh puteranya sendiri yaitu Boma karena kekejaman Boma yang tega membunuh secara sadis adiknya, sendiri, Samba. Ada satu lakon yang agak unik, yaitu lakon Pétruk Dados Ratu yang dipentaskan oleh Sultan Hamengkubuwana V. Lakon ini merupakan sindiran terhadap Komisaris Jenderal