8
1937 untuk merayakan perkawinan agung antara Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld dari negeri Belanda.[1] Dan pada tahun 1938, bagian pertama dari lakon ini dipergelarkan selama sehari untuk menyambut kunjungan resmi Gupernur Jenderal Tjarda van Starkenborg ke keraton Yogyakarta.
Struktur dramatik wayang wong pada dasarnya mengikuti struktur dramatik pertunjukan wayang kulit purwa. Satu kesatuan ceritera dibagi menjadi tiga bagian yang pembagiannya ditentukan oleh pathet, yaitu pathet nem, pathet sanga, dan pathet manyura gamelan bertangga nada (laras) Sléndro. Karena pergelaran wayang wong juga menggunakan gendhing-gendhing yang bertangga nada Pélog, meskipun jumlahnya sedikit, pathet untuk gendhing-gendhing yang berlaras Pélog menyesuaikan, yaitu pathet lima, pathet nem, dan pathet barang. Namun demikian ada perbedaan yang cukup besar antara pembagian waktu pada pertunjukan wayang kulit dengan wayang wong. Bila pada pertunjukan wayang kulit pathet nem berlangsung dari sekitar jam 21.00 sampai jam 24.00, pathet sanga dari jam 24.00 sampai jam 3.00, dan pathet manyura dari jam 3.00 sampai jam 6.00, pada pertunjukan wayang wong ritual yang selalu dimulai dari jam 6.00 pagi hingga jam. 23.00, pembagian waktunya menjadi berbeda. Pathet nem berlangsung dari jam 6.00 sampai jam 12.00, pathet sanga dari jam 12.00 sampai jam 18.00, dan pathet manyura dari jam 18.00 sampai jam 23.00. Bila sebuah ceritera dipentaskan dalam dua hari, ceritera itu dibagi dua dengan pembagian pathet yang sama.[2]
Lakon Mintaraga yang dipergelarkan selama dua hari dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama dimulai dengan adegan kerajaan Dwarawati, berakhir sampai terbunuhnya raja-raja sekutu Winatakwaca (Niwatakawaca). Bagian kedua dimulai dengan adegan di Kayangan Ngéndrabuwana sampai dengan terbunuhnya Niwatakawaca oleh
- ↑ 14Programma van de Wajang-Orang-Voorstelling "Soetjiptahening Mintaraga" of "De Ascese van Ardjoena" op te Voeren in Twee Dagen den 16den en 17den Januari 1937 te Houden in den Kraton te Jogjakarta ter Eere van het Huwelijk van H.K.H. Prinses Juliana en Z.K.H. Prins Bernhard van Lippe-Biesterfeld.
- ↑ 15Soedarsono, Wayang Wong: The State Ritual..., p. 140; juga periksa Alton L. Becker, "Text-Building. Epistemology, and Aesthetics in Javanese Shadow Theater, dalam Alton L. Becker dan Aram Yengoyan, ed., The Imagination and Reality, Essays on Southeast Asian Coherence System (Norwood, New Jersey: Ablex Publishing Company, 1979). p. 220-221.