Menyang kontèn

Kaca:Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (Buku I).pdf/19

Saka Wikisumber
Kaca iki wis divalidasi

7

Di samping Serat Kandha bernomor MS IOL Jav. 19 tersebut masih ada lagi beberapa manuskrip yang tersimpan di India Office Library yang kemungkinan besar juga merupakan Serat Kandha untuk pertunjukan wayang wong di keraton Yogyakarta. Manuskrip-manuskrip itu bernomor IOL Jav. 20, IOL Jav. 54, IOL Jav. 59, IOL Jav. 62, IOL Jav. 63, dan IOL Jav. 64.

Tiadanya Serat Kandha Ringgit Tiyang dari sebelum tahun 1845 di keraton Yogyakarta bukan merupakan hal yang aneh, karena Thomas Stamford Raffles, yang berhasil menduduki Jawa dan menjadi Litnan Gupernur sejak 1811 sampai 1816, merampas kekayaan istana Yogyakarta, bukan saja yang berupa uang dan benda-benda berharga, tetapi juga koleksi kepustakaan. [1] Dengan tindakan Raffles ini keraton Yogyakarta kehilangan manuskrip-manuskrip yang berasal dari sebelum tahun 1816, termasuk beberapa Serat Kandha. Namun demikian, tindakan Raffles itu ada pula hikmahnya bagi manuskrip-manuskrip yang tua itu, karena apabila masih tersimpan di perpustakaan Kridha Mardawa barangkali akan sudah sangat rusak. Sedangkan manuskrip-manuskrip itu di India Office Library tersimpan dan terawat sangat bagus. Sampai sekarang ini penulis baru sempat membaca satu manuskrip Serat Kandha saja yang tersimpan di India Office Library di London. Kemungkinan besar manuskrip-manuskrip yang lain di atas juga merupakan Serat Kandha untuk pertunjukan wayang wong, yang perlu mendapat perhatian untuk diteliti.

Wayang wong dengan lakon Mintaraga di keraton Yogyakarta dipentaskan pertama kalinya pada tahun 1926 selama dua hari, merupakan kelanjutan dari lakon Samba Sebit atau Bomatara yang juga berlangsung selama dua hari, untuk merayakan perkawinan putera-puteri Sultan. Manuskrip ini ditulis pada tahun 1924, dan sudah ada yang disalin dengan huruf Latin pada tahun 1936 untuk koleksi Perpustakaan Universitas Leiden di negeri Belanda.[2] Pertunjukan tahun 1926 itu juga direkam dengan film oleh Tassilo Adam, dan film itu sekarang tersimpan di Asia Society di New York. Penulis pernah mengamati film itu ketika menyiapkan disertasinya di Amerika Serikat. Pertunjukan kedua lakon Mintaraga diselenggarakan tersendiri selama dua hari pada tahun


  1. 12M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia (Bloomington: Indiana University Press, 1981), p. 109.
  2. 13Soedarsono, "Wayang Wong dan Perjanjian Giyanti...." p. 40.