Menyang kontèn

Kaca:Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (Buku I).pdf/18

Saka Wikisumber
Kaca iki wis divalidasi

6

Serat Kandha dan Serat Pocapan yang sampai saat ini masih tesimpan di Perpustakaan Kridha Mardawa jumlahnya cukup banyak. Sebagian besar masih cukup baik keadaannya, tetapi ada pula yang mulai sangat rapuh dan dimakan rengat. Naskah-naskah itu beserta naskah-naskah lain di keraton Yogyakarta sekarang sudah dalam usaha penyelamatan lewat perekaman dengan mikrofilm atas bantuan dari The Ford Foundation. Serat Kandha dan Serat Pocapan yang tersimpan di keraton Yogyakarta yang paling tua berangka tahun 1845.[1] Sedangkan yang paling muda dari akhir tahun sembilan belas tiga-puluhan.

Para ahli kebudayaan dari keraton Yogyakarta selalu mengatakan bahwa tradisi penulisan teks wayang wong yang berbentuk Serat Kandha dimulai oleh Sultan Hamengkubuwana V (1823-1855), yang memang dikenal sebagai Sultan yang sangat mengembangkan pergelaran wayang wong[2], dan memuncak dalam bentuk Serat Kandha dan Serat Pocapan pada jaman Sultan Hamengkubuwana VIII (1921 - 1939), seorang maecenas kesenian Jawa gaya Yogyakarta. Tetapi hal ini tidak seluruhnya benar. Tradisi penulisan Serat Kandha sudah dirintis oleh Sultan Hamengkubuwana I (1755 - 1792) yang mencipta wayang wong untuk keperluan ritual kenegaraan memperingati berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Hal ini terungkap ketika penulis menemukan dan membaca sebuah naskah wayang wong di India Office Library di London pada bulan Nopember 1984 dengan judul Serat Kandha Ringgit Purwa bernomor MS IOL Jav.19.[3] Meskipun lakon yang diceriterakan dalam manuskrip itu tidak disebutkan secara tegas pada halaman judul, tetapi jelas bahwa Serat Kandha ini menceriterakan peristiwa ketika Arjuna menghilang dari keluarga Pandhawa dan berganti nama Begawan Éndra Sampurna. Dari manuskrip ini pula bisa diketahui bahwa Serat Kandha Ringgit Purwa ditulis atas perintah Kangjeng Gusti Pangéran Adipati Anom Hamengkunegara Ingkang Sudibya Prana Raja Putra Narendra Mataram, putera mahkota Sultan Hamengkubuwana I. Manuskrip ini mulai ditulis pada tanggal 17 Nopember 1781 dan selesai pada tanggal 2 Januari 1782.[4]


  1. 8 Kagungan-Dalem Serat Bragolamurti, MS Kraton Yogyakarta No. 3/38; juga periksa Soedarsono, "Wayang Wong dan Perjanjian Giyanti 1755: Satu Kajian Tentang Hubungan antara Seni Pertunjukan dan Perkembangan Politik di Jawa," Makalah pada Seminar Nasional Hasil Penelitian Perguruan Tinggi di Bandung, Februari 1985.
  2. 9Soedarsono, Wayang Wong: The State Ritual..., p. 21.
  3. 10Soedarsono, "Wayang Wong dan Perjanjian Giyanti ...," p. 40.
  4. 11Ibid., p. 39.