Menyang kontèn

Kaca:Serat Kandha Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga (Buku I).pdf/17

Saka Wikisumber
Kaca iki wis divalidasi

5

Salah satu ciri khas dari pertunjukan drama tari Jawa gaya Yogyakarta yang bernama wayang wong ini ialah dipergunakannya teks lengkap yang disebut Serat Kandha dan Serat Pocapan. Serat Kandha berisi ceritera lengkap dengan petunjuk-petunjuk berbagai elemen pementasan, seperti gendhing (lagu) yang mengiringi sebuah adegan, keluar-masuknya penari, vokal yang mengiringi berbagai suasana, dan sebagainya. Teks ini dibaca secara khidmat dan keras oleh juru ceritera yang disebut pemaos kandha. Sedangkan teks Serat Pocapan berisi dialog lengkap para penari. Meskipun teks ini diletakkan di samping Serat Kandha, tetapi pembaca Serat Pocapan tidak membaca keras teks itu; tugasnya hanyalah memeriksa hubungan antara ceritera yang dibaca oleh pemaos kandha dengan dialog yang diucapkan oleh para penari. Pemaos kandha dan pemeriksa Serat Pocapan duduk di deretan paling depan dari jajaran penabuh gamelan yang berada di bagian Timur dari tempat pentas (Tratag Bangsal Kencana) yang disebut Bangsal Kuncung.

Banyak lakon atau ceritera wayang wong gaya Yogyakarta yang tertulis dalam naskah berhuruf Jawa secara rapi dan bagus, antara lain lakon Jayasemadi, Sri Suwéla, Samba Sebit, Bomatara, Mintaraga, Parta Krama, Srikandhi Meguru Manah, Sumbadra Larung/Pralaya, Jayapusaka, Semar Boyong, Rama Nitik, Rama Nitis, Pregiwa-Pregiwati, Rabinipun Angkawijaya, Rabinipun Pancawala, dan Pragolamurti.[1] Naskah teks pertunjukan wayang wong berkembang dari penulisan yang sederhana dan tidak lengkap, menjadi penulisan yang sangat canggih dan lengkap, terutama yang dikerjakan pada jaman Sultan Hamengkubuwana VIII (1921 - 1939). Yang sederhana ditulis dengan aksara Jawa biasa yang lebih menitik beratkan bagi kegunaan praktis dan hanya terdiri dari Serat Kandha saja, sedangkan yang canggih ditulis dengan sangat bagus dan dihiasi dengan berbagai ornamen hias pada beberapa halamannya, serta-lengkap terdiri dari dua bagian, yaitu Serat Kandha dan Serat Pocapan. Karena indahnya cara penulisan Serat Kandha dan Serat Pocapan ini, Pigeaud menyebut penulisan teks tersebut sebagai éditions de luxe.[2]


  1. 6Ibid., p. 29-30; juga periksa G.B.P.H. Suryobrongto, "Wayang Wong Gaya Mataraman," dalam Fred Wibowo, ed., Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta (Yogyakarta: Dewan Kesenian Propinsi DIY, 1981), p. 45-56.
  2. 7"Th.G.Th. Pigeaud, Literature of Java Vol. I: Synopsis of Javanese Literature 900-