Serat Kancil terdiri dari tiga jilid. Adapun cerita ringkas Serat Kancil jilid I secara singkat sebagai berikut :
1. Pupuh Dhandhanggula, 34 bait.
Pada tahun Jawa 1804, atau tahun 1873 Masehi, seorang pegawai Istana di Yogyakarta bernama Raden Panji Sasrawijaya, membuat tulisan berbentuk tembang Macapat dinamainya Serat Kancil. Cerita mengenai binatang yang dimaksudkan sebagai manusia pada waktu tulisan itu dibuat, untuk mengetengahkan beberapa fllsafat ajaran agama Islam.
Cerita bermula di Negeri Ajam (Pakistan), pada zaman yang disebut Zaman Kitrah. Ketika itu manusia belum banyak jumlahnya, akan tetapi sudah banyak jenis binatang yang pandai. Begitu pula keadaan di Pulau Jawa. Banyak binatang yang mahir bahasa
Kawi, Jawa, Arab dan ilmu-ilmu agama. Raja yang berkuasa di Ajam ketika itu bernama Kangjeng Nabi Sulaiman.
Terjadilah suatu waktu, Tuhan tidak menurunkan hujan dalam waktu lama. Rumput dan tumbuh-tumbuhan mati, hingga tampak gersang di mana-mana. Debu beterbangan dibawa angin. Taufan terjadi terus menerus, menumbangkan kayu-kayu besar, baik di
gunung maupun di hutan. Yang bisa bertahan hanyalah kayu-kayu yang tumbuh di jurang, tak bisa dijangkau oleh binatang. Demikian pula sumber-sumber dan sungai menjadi kering. Bahkan telaga dan bengawan kekeringan, menimbulkan penderitaan bagf binatang semuanya.
Tersebutlah seekor kerbau jantan, muda dan berbadan kokoh. Lama ia tidak makan dan tidak minum, hampir empat bulan tidak bersua dengan makanan. Ia terduduk lemah di bawah pohon Sempu, mohon betas kasih Hyang Kuasa. Suatu hari tibalah seekor harimau ke tempat itu tertarik oleh suara rintih binatang
9