akan pulang kembali ke tempat asal. Apa perolehan yang dibawa kembali tidak dapat diulang. Kancil belum ingin keluar dari guagarba Siput sebelum memperoleh penjelasan tentang ilmu rasa. Kancil menerima lafal Kalimah Syahadat.
18. Pupuh Dhandhanggula, 35 bait.
Siput memberikan penjelasan tentang isyarat yang dihadapi oleh makhluk apabila ajalnya hampir tiba, menurut pengalaman Siput. Sejak enam bulan sebelum terjadi. Siaplah menyerah bulat kepada Hyang Kuasa agar patinya sempurna. Selanjutnya Kancil diperintahkan untuk meneruskan pengabdiannya kepada orang banyak.
Suatu ketika Kancil mencuri ketimun di ladang milik Pak Sutatruna. Ia datang berulang-ulang ke ladang itu menghabiskan ketimun yang muda-muda. Pemiliknya mencari akal untuk menangkap binatang yang mengganggu hingga tanamannya rusak. Dibuatnya orang-orangan dari kayu supaya binatang yang mencuri takut.
Tetapi orang-orangan itu semuanya dirobohkan oleh Kancil. Sutatruna kemudian mengolesi orang-orangan itu ,dengan getah pohon yang lengket. Getah nangka, getah gundhang dan pohon
bendha.
19. Pupuh Sinom, 31 bait.
Sutatruna dibantu oleh banyak pemuda desa. Orang-orangan kayu telah dilumari getah cukup tebal dan didirikan di empat penjuru sawah. Kancil akhirnya tertangkap, biarpun berusaha sekuat tenaganya untuk menghilangkan getah yang lengket. Ia mengutarakan kesal hatinya panjang Iebar. Bahwa orang sebaiknya berpikir masak-masak sebelum melakukan sesuatu dan sebelum melaksanakannya. Karena bahaya besar tidak hilang oleh puji tanpa berusaha.
Orang yang bijaksana berpikir dulu sebelum bertindak.
20. Pupuh Maskumambang, 37 bait. Banyak orang yang tobat setelah masuk penjara. Kancil terperangkap akibat menuruti nafsu hati tanpa ditimbang oleh nalar yang tenang. Sutatruna yang terjaga melihat ke arab orang-orangan di sawah. Sebelah Baratlaut ternyata roboh. Segera ia singsingkan lengan baju dan lari ke tempat itu. Ia berteriak gembira melihat pasangan-getahnya mengena.
15