Kaca iki wis dikorèksi
rasanya tak ubah seperti orang sedang mimpi.
Dan melihat Sang Menak ia tak berani memandang,
karena merasa sangat malu dalam hati sanubari,
dan dengan tergopoh-gopoh kembali ke istana,
barangkali untuk merenungkan nasibnya.
(bersambung ke jilid II)
251