Kaca iki wis divalidasi
- mendengar kalau Sang Bibi akan mendatangi. Rupanya dorongan asmaranya sudah tak dapat dibendung lagi. Bingung hati Sang Rajaputra, maka bujuknya, "Bibi saya mau
- ke belakang buang air kecil. Kalau sudah silakan nanti, saya bersedia melayani." Dalam hati Sang Maryunani berpura-pura mengenakkan hati Sang Bibi. Senang hati Sang Bibi mendengar itu tanpa menaruh curiga, dikendorkanlah dekapannya. Lepas dari dekapan Sang Maryunani masih terengah-engah nafasnya.
- Serenta sudah teratur pernafasannya Maryunani pergi ke kamar kecil. Sampai di kamar kecil Sang Maryunani berjalan kian-kemari. Raja Dewi berkata, "Lama benar Raden." Sang Maryunani menjawab, ’*Sebentar Bibi belum selesai, saya sedang bersiap-siap.”
- Raja Dewi segera mendatangi sambil membawa jenewer yang terakhir sebab sudah. dihidangkan sampai tujuh kali. Raden Maryunani merasa lelah sekali terus tidur, sedang Sang Retna Prabu Kalajohar masih menunggu di sebelah kanan. Ia berkata dalam hati, "Orang ini bikin panas hati orang, tidak mau mengikuti kehendak saya.
- Kalau demikian biarlah tak usah kebagian sama sekali." Sang Dyah sangat tersinggung hatinya, karena kehendaknya tak dilayani. Raja Dewi berteriak dalam hati, ’Biar saya sirnakan Maryunani dari dunia ini.”” Raja Dewi segera menarik senjatanya. Hatinya gelap.
- Diembatkan ke leher Sang Maryunani, putus sekali babat, Sang Putri sangat menyesal, terus berteriak ada maling. Gegerlah isi istana dan yang ada di paseban. Ketika orang Arab mendengar segera mereka masuk ke istana termasuk Raja Yunan dan Raja Kohkarib orang ramai berteriak Di dalam istana
- bahwa Maryunani dikhianati, sekali penggal kepalanya putus. Tamtanus mendekap mayat putranya, ’’Sungguh kasihan,” jeritnya. Umarmadi awas, dia melirik dan melihat bahwa kain Sang Putri berlumuran darah. Segera ia menubruk dan menangkap Raja Dewi.
78