Kaca iki wis divalidasi
- Dengan susah payah bangun kembali dan menerjang dengan pedangnya. Rantaslah Kalisahak dan matilah kuda itu. Raden Maryunani meloncat menyusul Bahman yang ditebasnya dari belakang.
- Wadya Maryunani banyak yang datang, dan Raden Maryunani tetap menangisi kudanya. Ia ingat lalu pergi ke tempat Bahman dan betis yang kiri pun dipedang putus, "Matilah Raja Bahman".
- Betis kanannya putus dipedang dan Bahman menjatuhkan diri menangis. Ia tidak dapat berjalan karena putus betisnya. Raden Maryunani kembali ke tempat Kalisahak (kudanya) sambil menangis.
- Begitulah nasib si Bahman yang tidak tahu budi baik dari orang tua Maryunani. Dipenggallah kepala Bahman untuk dipersembahkan kepada orang tua Maryunani.
- Ketika wadya yang membawa kepala Bahman, mau berangkat datanglah Sang Amir, menyusul putranya. Terlihat banyak raja ada di situ, maka turunlah Sang Amir dari kudanya diikuti oleh barisan pengiring yang berkuda.
- Kemudian kepala Bahman diperiksa. Wong Agung berkata "Sangat sayang raja ini, dia gagah perkasa, tetapi mempunyai cacad kurang budi.
- Tidak ada kepercayaan, dan kurang dapat bicara. Dan kuda ini si Kalisahak, seribu sayang. Karena ini warisan dari leluhur saya, Nabi. Ishak. Di mana saya mendapatkan penggantinya?"
- Wong Agung menangisi kudanya, dan ia sudah memerintahkan kepada para prajurit untuk membawa mayat kuda ke negara Kaos dan menguburnya di sana serta diberi nisan sekali.
- Maka seluruh prajurit Arab, baik satria maupun para dipati, yang dalam peperangan mengejar-ngejar musuh selama satu setengah hari, memperoleh kemenangan.
46