Kaca iki wis divalidasi
- Walau tidak disengaja, tetapi para satria bertemu dengan para satria, para raja bertemu dengan para raja. Diceritakan yang sedang perang tanding, Raja Parisdan memedang bertubi-tubi
tetapi ditangkis dan tidak mengenai sasaran.
- Bertanyalah Wong Agung Parangteja, "Orang apakah kamu itu, demikian rusuh caramu berperang, raja atau satria." Raja Parisdan menjawab, "Saya adalah seorang raja, Kalsum istana saya.
- Kamu itu seorang raja atau seorang satria." Raden Maktal menjawab, "Katakanlah raja, memang saya seorang raja. Kau mengira saya satria, ya memang saya seorang satria.
- Negara saya Ngalabani." Sang Parisdan dengan suara keras berkata, "Mari balaslah." Segera Raden Maktal memedang Raja Parisdan. Perisai Parisdan terbelah dua, begitu pula kepalanya,
- juga dada dan perutnya, sampai kepelana kuda dan kudanya ikut terbelah dua. Raja Parisdan terbelah dua. Umarmaya kaget melihat Raja Dinawar menghilang, tidak kelihatan.
- Banyak perjurit Arab mati, terbunuh oleh raja negara Sulbi, ialah Raja Dinawar. Umarmaya, segera memakai topong dari Ngajerat, maka sesaat kemudian ia tak kelihatan.
- Ia menghunus kanjar (senjata tajam) dan Raja Dinawar putus lehernya. Segera Marmaya mengamuk dengan kanjarnya. Karena orang Kapir yang memulai perang bauran, maka Marmaya yang membalas, katanya,
- "Rasakan kalian yang memberi pinjaman kepadaku." Marmaya mengamuk dengan kanjarnya. Karena ia tidak terlihat maka banyak raja dan dipati yang terbunuh oleh Umarmaya.
- Tak dapat dielakkan jumlah kematian, tak dapat kalau diusahakan, hanya Walla hualam. Tuhan yang mengetahui jumlah kematian. Musuh lari kecuali yang sudah terbunuh.
44