Kaca iki wis divalidasi
- Ada yang memberi laskar pria maupun wanita, masing-masing dua puluh limaan atau sepuluhan, dan lagi berupa harta benda tidak ada putusnya tiap harinya. Disongsong oleh para raja segala mas intan dan pakaian indah-indah, serta perlengkapan perang dan alat perkakas negara. Seperti mimpilah Sahsiar dan ibunya.
- Setelah tujuh hari lagi pada waktu dihitung maka Sahsiar sudah mempunyai seratus ribu orang bawahan, baik laki-laki maupun wanita. Harta benda mengalir ditumpuk menggunung. Wong Agung bersabda kepada semua raja, "Laskar Sahsiar semakin bertambah bertumpuk-tumpuk bahkan para dipati dan satria semua ikut bernadar.
- Dan sekarang Sahsiar kami angkat menjadi Bupati di bukit Surukan. Laskarnya sekarang sudah mencapai seratus ribu.” Dalam tujuh hari lagi pemberian para raja semakin bertambah bertumpuk-tumpuk, bahkan para dipati dan satria semua ikut bernadar.
- Setelah sepuluh kari dan dua kali tujuh hari dihitung lagi Laskar yang datang yang mencapai jumlah empat ratus delapan puluh delapan ribu delapan ratus. Harta benda tambah menggunung, demikian alat perkakas negara. Ki Sahsiar sudah diangkat menjadi raja.
- Kalau semisal dibandingkan, yang diutarakan oleh si ahli cerita, Bukit Surukan sekarang dengan negara Tarkis, dibandingkan kesejahteraannya, Surukan menang harta bendanya, karena Sahsiar sudah menjadi raja.
- Karena besarnya anugrah dari Sang Surayengbumi, ibu Sahsiar diberi nama Umi Sultani yang berarti Ibu Ratu. Ramailah dalam satu bulan, Mendang Surukan menjadi negara lengkap dengan peralatan perangnya.
- Kalau dibandingkan kekayaan Prabu Sahsiar dengan kekayaan empat puluh raja pedagang yang berdagang selama empat puluh tahun masih juga unggul kekayaan Prabu Sahsiar yang beristana sedang-sedang saja.
38