Kaca iki wis divalidasi
- Anakku Sayid Sami, suruhlah kudamu, makan rumput di ke-bun dan di luar desa yang banyak rumputnya. Selama anakku sakit dia belum mau makan.
- Selalu menjaga anda, amboi kuda apa itu. Beri tahu saya sebab belum ada di dalam negara ada kuda yang mirip dengan dia. Saya belum pernah mendengar ada kuda yang dapat mengerti seperti manusia.”
- Berkatalah Raden Sayid Sami, Bibi itu kuda tunggangan Ja-yengpalugon. Kuda itu anak raksasa dari gunung Jabalkab, ibu-nya peri.” Manggut-manggutlah Nyai janda.
- Semakin mantaplah hatinya untuk mengaku anak Sayid Sami. Ketika ia berdua dengan anaknya, berbisiklah ia, "Nak, tamu-mu itu sungguh-sungguh seorang santana dari Wong Agung Ka-kungingrat.
- Dan mengenai kudanya ini, menurut keterangannya, suatu pin-jaman dari Jayengpalugon, dan sesungguhnya kuda itu anak raksasa dari Jabalkab. Teruskanlah pengabdianmu, karena nyatanya dia masih seorang bangsawan.”
- Ketawalah Raden Sayid Sami. Konon Ki Umarmaya. Melantur-lantur langkahnya, masuk ke dalam hutan lebat. Melihat ke u-tara selatan dan timur, tampak pada Umarmaya sebuah jalan lurus.
- Diikuti jalan itu, tetapi lagi-lagi buntu. Berkesimak Ki Umar-maya sambil berpegangan tangan di belakang. Ia berjalan sam-bil mengantuk. Tekad hatinya Ki Umarmaya sukur hidup atau mati. Ia lama berjalan,
- Terbentur kayu bangun berjingkraklah Ki Umarmaya, berhen-tilah ia, melihat ke utara dan barat terlihatlah ada jalan tem-busan bersih bekas dilewati. Selanjutnya ia melihat air dalam parit yang bersih berasal dari sendang.
32