Menyang kontèn

Kaca:Menak Kanin.pdf/26

Saka Wikisumber
Kaca iki wis divalidasi
    dia. Selanjutnya bersembunyi di belakang bangkai gajah sambil mengamat-amati tingkah laku Jayengmurti yang luka.
  1. Sang Jayengmurti membetulkan mahkotanya, mengokohkan dengan diikat, kemudian berkata kepada kudanya Si Sekar Diyu agar ia dibawa kabur keluar barisan. Kemudian ia pingsan terjungkal di atas kudanya.
  2. Sekar Diyu segera melesat, menerobos keluar barisan. Sang Raja Bahman melihat tingkah laku Wong Agung ketika terjungkal di atas kudanya, dikira sudah mati. Maka ia berangkat teratih-tatih sambil berteriak bahwa Ambyah mati.
  3. Riuhlah seluruh wadya bala mengetahui kabar bahwa Jayengnurti mati. Umarmaya kaget mendengarnya, beringas ia ketengah medan mencari Wong Agung tetapi tak dapat menemukannya. Lama mencari di antara mayat-mayat, tetapi tidak dapat menemukannya.
  4. Lama-lama mendapat bekas kaki Sekardiyu, ditelitinya ternyata sudah keluar dari barisan besar. Sampai pagi yang berperang telah bubar dan berkumpul dengan kelompok masing-masing, tidak ada barisan yang campur aduk.
  5. Orang Arab tidak masuk kota karena junjungannya belum diketemukan. Semua sangat susah dan semua bulu ekor kuda diguntingi yang menandakan bahwa bala Arab sedang sangat prihatin.
  6. Mereka mengerumuni Umarmaya dan menangisinya. Umarmaya berkata lantang, "Hal itu belum tentu. Itu hanya teriakan musuh yang mengira bahwa Jayengmurti telah terbunuh. Saya telah mencari di antara mayat-mayat itu, mayatnya tak kutemukan.
  7. Terganggu kedatangan bala Arab yang di belakang yang dipimoleh Wong Agung Parangteja. Pagi itu barisan bersama Umarmadi langsung menemui Umarmaya dan segenap para raja yang seluruhnya berbela prihatin.

24