Kaca iki wis divalidasi
- dia. Selanjutnya bersembunyi di belakang bangkai gajah sambil mengamat-amati tingkah laku Jayengmurti yang luka.
- Sang Jayengmurti membetulkan mahkotanya, mengokohkan dengan diikat, kemudian berkata kepada kudanya Si Sekar Diyu agar ia dibawa kabur keluar barisan. Kemudian ia pingsan terjungkal di atas kudanya.
- Sekar Diyu segera melesat, menerobos keluar barisan. Sang Raja Bahman melihat tingkah laku Wong Agung ketika terjungkal di atas kudanya, dikira sudah mati. Maka ia berangkat teratih-tatih sambil berteriak bahwa Ambyah mati.
- Riuhlah seluruh wadya bala mengetahui kabar bahwa Jayengnurti mati. Umarmaya kaget mendengarnya, beringas ia ketengah medan mencari Wong Agung tetapi tak dapat menemukannya. Lama mencari di antara mayat-mayat, tetapi tidak dapat menemukannya.
- Lama-lama mendapat bekas kaki Sekardiyu, ditelitinya ternyata sudah keluar dari barisan besar. Sampai pagi yang berperang telah bubar dan berkumpul dengan kelompok masing-masing, tidak ada barisan yang campur aduk.
- Orang Arab tidak masuk kota karena junjungannya belum diketemukan. Semua sangat susah dan semua bulu ekor kuda diguntingi yang menandakan bahwa bala Arab sedang sangat prihatin.
- Mereka mengerumuni Umarmaya dan menangisinya. Umarmaya berkata lantang, "Hal itu belum tentu. Itu hanya teriakan musuh yang mengira bahwa Jayengmurti telah terbunuh. Saya telah mencari di antara mayat-mayat itu, mayatnya tak kutemukan.
- Terganggu kedatangan bala Arab yang di belakang yang dipimoleh Wong Agung Parangteja. Pagi itu barisan bersama Umarmadi langsung menemui Umarmaya dan segenap para raja yang seluruhnya berbela prihatin.
24