Kaca iki wis divalidasi
IV.Wong Agung terluka
- Prajurit yang tergilas dalam perang pergi mengungsi ke sinar panji-panji, berjejal-jejal para pengungsi yang masih sadar yang mengungsi ke tempat yang terang. Yang sudah lupa (tak sadar) mengamuk seperti orang mabuk, tak mempedulikan gelap dan terang, karena semangat berperang.
- Makin ngawur mengamuknya, karena Wong Agung mabuk dalam peperangan. Muntah-muntah baju bercampur darah, pegal tak berdaya tangannya saking banyaknya musuh yang dibunuhnya, hidungnya mekar dan air liur keluar dari bibirnya.
- Mahkotanya tergelingsir, kepala terkulai, ngantuk tidur di atas kuda, baju basah karena darah, membasahi pelana. Jayengmurti sangat mabuk, tidak ingat permulaan sampai akhir tak tahu utara, selatan dan timur.
- Tersorot oleh sinar terang Raja Bahman melihat Sang Jayengmurti bahwasanya ia sedang mabuk darah. Umarmaya sudah dipisahkan. Raja Bahman turun dari kudanya, sambil mengambil pedangnya, keluar ia di belakang Amir.
- Setelah dekat segera ia memedang dari belakang mengenai tepat di atas telinga, kagetlah Wong Agung sambil melonjak. Bahman telah berlari sambil menghapus kepalanya yang berlumuran darah, Wong Agung melongok-longok yang memedangnya namun tidak kelihatan.
- Bahman cepat larinya, jatuh bangun kemudian jatuh tersangkut gada, terbentur gajah terkena bangkai gading luka parahlah
23