Kaca iki wis divalidasi
- Engkau belum dapat tandingan, seorang raja yang sakti seperti aku ini. Hayo lekas kau mulai apa yang ada padamu. Saya ingin mencicipi gadamu, saya ingin merasakan."
- Berkatalah Sang Jayengmurti, "Hai Bardian, ketahuilah, bukan caraku dalam peperangan mendahului menggada. Sebaiknya kaulah yang mukul aku dulu. Kalau sudah lengkap tiga kali baru saya membalas menggada."
- Tertawalah raja Kudari, "Kalau kau sudah kupukul jadi sayatak akan merasakan pukulanmu. Engkau tak mungkin dapat bertahan mendapat pukulanku, tentu rata dengan tanah."
- Wong Agung Menak menjawab, "Ayo lekaslah pukul saya. Kalau memang harus mati berkalang tanah itulah sudah takdir Hyang Widi. Kau jangan kawatir." Bardian latah menjawab, Terpaksa aku ingatkan engkau.
- Bahwasanya gada saya seberat seribu kati emas. Engaku pendek lagi kecil dan tungganganmu kuda. Tentu tak ada artinya, saya besar dan agung sedang tunggangan saya gajah."
- Wong Agung berkata manis, "Tak usah banyak lagak, laksanakan saja segera." Raja Bardian membentak, "Baik waspadalah," sambil memainkan gadanya dan dengan kuat-kuat menggada.
- Ditangkis oleh Wong Agung Jayengpalugon, tangannya pun tak tergetar. Ia membalas dengan perisainya, ditusuk dari depan ditendang Bardian terpelanting.
- Sudah jatuh dari gajahnya. Gajah digada hancur lebur campur tanah. Raja Bardian bangun hendak menggada, tetapi gada direbut oleh Wong Agung sambil pelan-pelan berkata,
- "Bertudunglah perisai besimu Bardian. Kau akan kugada dengan gadamu sendiri."
Bardian segera bertudung perisai besi. Wong Agung segera memukul kuat-kuat dengan gadanya.
17