Menyang kontèn

Kaca:Menak Kanin.pdf/19

Saka Wikisumber
Kaca iki wis divalidasi
  1. Engkau belum dapat tandingan, seorang raja yang sakti seperti aku ini. Hayo lekas kau mulai apa yang ada padamu. Saya ingin mencicipi gadamu, saya ingin merasakan."
  2. Berkatalah Sang Jayengmurti, "Hai Bardian, ketahuilah, bukan caraku dalam peperangan mendahului menggada. Sebaiknya kaulah yang mukul aku dulu. Kalau sudah lengkap tiga kali baru saya membalas menggada."
  3. Tertawalah raja Kudari, "Kalau kau sudah kupukul jadi sayatak akan merasakan pukulanmu. Engkau tak mungkin dapat bertahan mendapat pukulanku, tentu rata dengan tanah."
  4. Wong Agung Menak menjawab, "Ayo lekaslah pukul saya. Kalau memang harus mati berkalang tanah itulah sudah takdir Hyang Widi. Kau jangan kawatir." Bardian latah menjawab, Terpaksa aku ingatkan engkau.
  5. Bahwasanya gada saya seberat seribu kati emas. Engaku pendek lagi kecil dan tungganganmu kuda. Tentu tak ada artinya, saya besar dan agung sedang tunggangan saya gajah."
  6. Wong Agung berkata manis, "Tak usah banyak lagak, laksanakan saja segera." Raja Bardian membentak, "Baik waspadalah," sambil memainkan gadanya dan dengan kuat-kuat menggada.
  7. Ditangkis oleh Wong Agung Jayengpalugon, tangannya pun tak tergetar. Ia membalas dengan perisainya, ditusuk dari depan ditendang Bardian terpelanting.
  8. Sudah jatuh dari gajahnya. Gajah digada hancur lebur campur tanah. Raja Bardian bangun hendak menggada, tetapi gada direbut oleh Wong Agung sambil pelan-pelan berkata,
  9. "Bertudunglah perisai besimu Bardian. Kau akan kugada dengan gadamu sendiri."
    Bardian segera bertudung perisai besi. Wong Agung segera memukul kuat-kuat dengan gadanya.

17