Kaca iki wis divalidasi
- Setelah para raja dan para dipati selesai meyambut, maka kedua putra tadi menyusup ke ayahanda. Para satriya ganti memegang kendali kuda dan Sang Amir berjalan perlahan-lahan.
- Kedatangan Wong Agung disongsong oleh para dipati. Wong Agung telah duduk di singgasana. Para perjurit melaporkan segala tingkah lakunya dari awal sampai akhir.
- Tentara kapir dengan waspada memperhatikan dan yakin bahwa yang datang itu adalah Wong Agung, mereka takut dalam hati, hanya raja-raja baru saja yang senang hatinya.
- Raja Bahman menundukkan kepala, sangat prihatin dan pelan-pelan berkata, "Aduh Sang Prabu Hirman, hamba sekarang tak kuat melihat si Jayengmurti tetapi Raja Sarkab dari Turki berkata kasar,
- "Biarlah saya saja yang maju berperang melawan raja Arab, dan segera ia menaiki kudanya lengkap dengan peralatan perang yang sudah tersedia di atas kuda.
- Menggerakkan kudanya dan sudah sampai di tengah medan laga. Memanggil-manggil dan lantang sesumbarnya, "Hai, Raja Arab ketahuilah, saya ini Kaja Sarkab dan tak punya lawan di Turki.
- Selama saya ditakdirkan di bumi, dalam peperangan belum pernah kalah, sungguh seorang raja hebat. Banyak sudah para raja yang berperang sama saya, semua kuikat.
- Saya sengaja merantau dalam peperangan mencari tandingan. Engkau yang selalu aku inginkan, sangat kebetulan engkau yang kutunggu. Kau sekarang datang, rasa hati saya
- seperti mendapatkan zamrut sebesar gunung, puas kehendak hatiku." Wong Agung segera mengambil kuda karena sudah jelas apa yang didengarnya. Wong Agung sudah maju berkuda.
11