17.
20.
Zi.
22.
242
langsung. Dan kejadian yang kedua masih jauh kemudian.
Baru nanti di dalam peperangan dengan Purwakanda. Hilangnya tersebut dapat diupayakan segera kembali, dengan menobatkan Raden Jayusman sebagai raja, menjadi raja di Negara Parangakik nanti.
Untuk sementara saya jadikan dia sebagai raja,
dan di situlah gendang ini wariskan kepadanya.
Itu akan menimbulkan kemantapan rasa hati
seluruh wadya bala yang sedang dalam keprihatinan,
dan tidak berdaya karena kehilangan pemimpin agung.
Kalau sewaktu berperang gendang ini dibunyikan bertalu-talu, para wadya bala hatinya akan merasa mantap,
dan keberaniannya akan timbul kembali seluruhnya.
Kegembiraan dan keberanian yang timbul kembali itu, berkat pengaruh bunyi gendang kecil ini.
Bunyinya akan menghilangkan segala rasa khawatir dan meleburkan semua rasa prihatin yang diderita.
Hati mereka kembali sentosa, timbullah keberaniannya, dan mengharap-harap dapat segera maju perang.
Segera ambillah Gendang Iskandar itu yang tergantung pada dahan pohon Nagasari. Marmaya segera menyembah dan mengambil gendang tersebut.
Gendang segera, dimasukkan ke dalam kantung ajaib dan ka- kek tua
pun sudah lenyap. Ki Dipati Marmaya heran menyaksikannya. segera ia menepuk betisnya dan lajulah ia seperti cahaya.
Dan dalam perang mereka akan lebih gesit dan trampil.” Demikianlah pesan Sang Kakek, dan Sang Umarmaya segera menepuk betis melanjutkan perjalanannya. Menepuknya hanya sekali, namun jalannya kini
menjadi sangat cepat; pikir Sang Umarmaya,
Ini jelas karena restu dan sawab Sang Kakek tadi.”