Menyang kontèn

Kaca:Kyai Ageng Pandhanarang.pdf/28

Saka Wikisumber
Kaca iki wis dikorèksi

bayat;

2. Putera ke-97, Raden Jaka Bodho, yang setelah Majapait jatuh menjadi penganut Sunan Bayat, lalu diperintahkan tinggal di Majasta;

3. Putera ke-98, Raden Jaka Pandhak, juga menjadi penganut Sunan Bayat dan diberi nama Seh Kaliatu;

4. Putera ke-99, Raden Jaka Wajak alias Raden Jaka Wuiil, juga menjadi penganut Sunan Bayat, diberi nama Seh Sabuk- janur (cocokkan dengan yang telah diuraikan di atas);

5. Putera ke-100, Raden Jaka Bluwo, juga menjadi penganut Sunan Bayat, dengan nama Seh Sekardalima.

Menurut kitab Sejarah Dalem ini tentunya yang menjadi wali di Tembayat ialah putera Prabu Brawijaya terakhir yang bernama Raden Jaka Supana, alias Raden Tembayat.

  • *

Keterangan mengenai asal-usul Kyai Pandhanarang atau Sunan Bayat ini pada dasarnya ada 3 macam:

1, yang menerangkan bahwa Kyai Pandhanarang itu ialah Pra- bu Brawijaya V (yang terakhir);

2. yang menguraikan bahwa yang menjadi bupati di Semarang dengan sebutan Pangeran Pandhanarang itu Raden Made Pan- dhan, putera Raden Sabrang Wetan, cucu sang Panembahan di Demak, dan yang menjadi wali di Tembayat adalah putera Raden Made Pandhan yang bernama Raden Kaji, ialah yang waktu menjadi bupati bernama Adipati Mangkubumi;

3. yang mengutarakan bahwa putera raja Majapait yang ter- akhir (Prabu Brawijaya V) ada yang bernama Raden Jaka Supana alias Raden Tembayat.

Dari sekian itu mana yang betul baiklah dijadikan bahan pemikiran dan bahan penelitian lebih lanjut.

  • *

Sebagai penutup akan dikemukakan nama atau sebutan ke- turunan Sunan Bayat, menurut catatan yang masih tersimpan sampai sekarang:

26