dari Mangkunagara pada (putranya) Wiratmeja yang menyarankan mengikuti ajakan pembawa surat ini, untuk dicarikan tempat persembunyian yang lebih baik. Selanjutnya mereka ini ditempatkan di Carewek padukuhan Kuwu. Suryamenggala kembali melaporkan kepada Mangkuyuda dan Jayanagara serta mohon petunjuk selanjutnya. Penangkapan akan dilaksanakan pada malam hari, lalu Suryamenggala kembali memerintahkan untuk memasak bagi rombongan Pangeran Wiratmeja. Masakan yang menjadi kegeramarannya, yang enak-enak. Namun ternyata bahwa seluruh masakan tersebut diurap dengan (tepung) kecubung. Pada sore hari masakan yang sudah siap itu diantarkan ke Carewek. Pangeran Wiratmeja dengan istrinya senang sekali, dan makan sepuas-puasnya. Demikian pula halnya para pengikutnya yang sudah beberapa hari tidak pernah makan nasi, (hanya makan jagung muda), maka mereka merasa púas dan nikmat sekali akan makanan tersebut. Pada petang harinya, kantuk tak tertahankan lagi tetapi hal ini pun belum disadarinya. Mereka mempunyai anggapan bahwa karena telah lama kurang makan, maka rasa kekenyangan ini menimbulkan rasa kantuk yang tak dapat dicegah. Semua tertidur dengan pulas. Maka pada malam hari itu Tumenggung Mangkuyuda dan Jayanagara diantar oleh dua mantrinya, datang untuk menyergap/menangkap Wiratmeja. Wiratmeja yang sedang tidur pulas di samping istrinya itu berhasil dibunuhnya. Kematian Wiratmeja menimbulkan suara yang gaduh sehingga para istri dan pengikutnya terbangun. Di sini terjadilah keributan dan perkelahian, yang menyebabkan korban bagi para pengikut Wiratmeja. Semua pengikutnya tertangkap, hanya satu yang dapat meloloskan din. Segera mereka dibawa oleh Tumenggung Mangkuj yuda menghadap Raja di Surakarta dan jenazah Wiratmeja dibawa serta. Tertangkapnya/terbunuhnya Wiratmeja sangat menggembirakan Raja dan kumpeni. Syahdan tersebutlah di daerah pegunungan selatan (gunungkidul), seakan-akan penyakit yang dialaminya kambuh lagi. Seluruh rakyat sepanjang pegunungan Selatan, bersatu meng-
14
PNRI