Menyang kontèn

Kaca:Alap-Alapan Drusilawati.pdf/9

Saka Wikisumber
Kaca iki durung katitiwaca

Surtayu, Surtayuda, Citrawarsa, Carucitra, Jayasusena dan Jayawikatha. Pasukan pencari dari Astina ini sepakat untuk menuju ke daerah perbatasan antara negara Astina dengan Amarta, karena mereka menduga atau mencurigai Pandawa telah menculik dewi Drusilawati. Adegan 5 : Dalam pada itu di kerajaan Banakeling, raja Sapwani beserta anaknya yang bernama Jayadrata juga sedang memperbincangkan peri hal hilangnya dewi Drusilawati. Kerajaan Banakeling telah ikut membantu mencari dewi Drusilawati, akan tetapi para utusan pulang dengan tangan hampa. Sekadar berita tidak juga mereka peroleh. Jayadrata, tunangan Drusilawati minta izin kepada ayahnya untuk pergi sendiri mencari tunangannya. Akan tetapi sang ayah tidak setuju. Tidak pantas seorang calon mempelai pergi sendiri mencari kekasihnya. Apalagi karena masih banyak yang dapat disuruh. Jika perjalanannya tidak membawa hasil, bahkan akan memalukan sekali. Akhirnya raja Sapwani mengutus patih Jayasubanda dan tumenggung Jayawiladaka untuk sekali lagi berusaha menemukan dewi Drusilawati. Adegan 6: Raja Kaladiyu dari negeri Timbultaunan ketika tidur dalam kamar samadinya bermimpi mendapat petunjuk dewata demi kesejahteraan negerinya. Jika ingin negerinya sejahtera, hendaknya ia kawin dengan putri Astina yang bernama Drusilawati. Atas nasihat pamongnya, ia kemudian mengirimkan surat lamaran ke Astina. Pembawa surat lamaran itu ialah para tumenggung Timbultaunan Renggutmuka, Klanthangmimis dan Thothogatho disertai dua orang penunjuk jalan Togog dan Sarawita. Dalam perjalanan ke Astina, pasukan raksasa Timbultaunan berpapasan dengan pasukan Banakeling. Mereka berselisih pendapat dan akhirnya timbul peperangan. Pasukan Banakeling tidak mampu menahan amukan prajurit raksasa. Mereka terpaksa melarikan diri dengan membuang semua perbekalannya agar prajurit dari Timbultaunan tidak mengejar terus. Pasukan Banakeling membuat kubu perkemahan di dalam hutan. Adegan 7: Arjuna atau Pamadi beserta ketiga pengiringnya Semar, Nalagareng dan Petruk yang telah lama meninggalkan Madukara tengah duduk beristirahat di bawah sebatang pohon rindang di tengah hutan belantara. Para pengiring sudah berkali-kali

10